BIOGRAFI Umbu Landu Paranggi

November252012
Syahdan pada waktu
periode akhir 60an
sampai pertengahan
tahun 70 an, ada sosok
yang sedemikian di
hormati di kawasan
Malioboro dan
sekitarnya. Jika generasi
flower generation di
Amerika memiliki Simon &
Garfunkel atau Bob
Dylan. Di Jogjakarta
siapa yang tak mengenal
Umbu Landu Paranggi –
raja sesungguhnya
kawasan Malioboro.
Saya
tak mengalami
jaman jaman tersebut
selalu bertanya tanya
kepada mereka yang
mengenal sosok
gondrong itu, yang garis
wajahnya seperti kuda
sumba yang keras.
Membuat penasaran apa
yang membuatnya
begitu begitu heroik dan
menjadi sumber oase
dari sastrawan, penulis,
tukang becak sampai
pelacur di seputaran
Malioboro.

Jalannya hidupnya konon
misterius
– ada yang
bilang nomaden - dan
biasa berjalan dari
tempat nongkrongnya di
Malioboro utara sambil
menyapa orang orang
dan menulis puisi. Ia
selalu mengajar orang
menulis
sastra
,membimbingnya
dalam Persada Studi Klub
di Koran Pelopor Jogja. Ia
memperhatikan
pertumbuhan
puisi,
menjaga dan
menumbuhkan
sastrawan
sastrawan
baru yang kini mungkin
anda banyak
mengenalnya, seperti
Emha Ainun Najib, Linus
Suryadi sampai musisi
Ebiet G Ade.

Ya, keahlian sebagai
penulis puisi membuat ia
peka dengan manusia
dan kehidupan
sekitarnya. Sehingga
ustad Umbu, - demikian
Emha menjulukinya –
karena integritasnya
kepada lingkungan dan
sastra, juga sangat
peduli dengan orang
orang kecil.
Pernah
suatu ketika ia
menghampiri seorang
pemungut sampah dan
mengajaknya bicara.
Kemudian ia mengajari
baca tulis, serta
mengangkat derajatnya
menjadi tukang becak.
Setahun berselang
kepada teman temannya
ia menunjuk tukang
becak itu yang sedang
istirahat membaca
Koran.

lihat tahun depan ia
akan bisa menulis puisi
“. Umbu memang selalu
percaya bahwa manusia
pada hakekatnya
memiliki potensi yang
sama.

Umbu adalah orang yang
rendah hati. Pakde Umar
Kayam begitu pulang dari
Amerika
terkaget kaget
melihat betapa halusnya
perikata sosok manusia
ini. Padahal Umbu bukan
orang Jawa. Ia berasal
dari tanah Sumba , Nusa
Tenggara Barat. Ia juga
tak pernah mau
tulisannya diterbitkan. Ia
hanya mendorong murid
muridnya maju dan
menjadi sastrawan
kelas atas. Ia cukup
bangga sebagai
begawan yang
memperhatikan dari
jauh.
Barangkali
ini yang
dinamakan sebagai
penggerak swadaya
masyarakat tanpa
pamrih. Ia mungkin bisa
sejajar dengan Romo
Mangun yang juga
menjadi pahlawan bagi
masyarakat kali code.
Bahwa kadang kadang
dalam masyarakat
dibutuhkan orang orang
waras yang tak peduli
untuk mengajarkan atau
memberikan sesuatu.
Apapun bentuknya.
Hanya satu tujuannya,
membawa ke wujud
kehidupan yang lebih
baik.

Umbu tak pernah puas.
Suatu saat ia
menghilang. Alasannya ia
hendak menengok
padang rumput savanna
di kampungnya , Sumba.
Seketika Jogja
kehilangan denyut nadi
kehidupan sastra yang
tadi bergairah. Mungkin
ia merasa sudah cukup
meninggalkan 1000
penulis puisi dengan
diantaranya 300 yang
berbakat.
Ia
memilih menetap di
Bali. Ia menjadi brahmana
Umbu
disana, mendorong
pertumbuhan sastra di
pulau dewata. Ia tetap
menggelandang, tidur
beratap langit dan
menyimpan uangnya di
dalam tanah.
Kita
bisa mencontoh
Umbu. Menjadi mata air
dimana saja, tidak harus
dibatasi sekat budaya,
agama dan manusia.

Nama :
Umbu Landu Parangi

Lahir :
Sumba, Nusa Tenggara
Timur,
10 Agustus 1943

Pendidikan :
SD dan SMP di Sumba,
NTT,
SMA Bopkri 1
Yogyakarta,
Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik UGM (tidak
tamat),
Universitas Janabadra
jurusan Sosiologi

Profesi :
Pendiri Persada Studi
Klub (PSK),
Redaktur kebudayaan
Pelopor Yogyakarta
(1966-1975),
Redaktur harian Bali
Post, Bali

Karya :
Tonggak,
Bonsai’s Morning,
Teh Ginseng

Sumber:
http://id.wikipedia.org/
wiki/Umbu_Landu_
Paranggi
http://
www.tamanismailmarzuki.
com/tokoh/umbu.html
http://
katakamidotcom.word
press.com/2010/02/03/
umbu/
http://
blog.imanbrotoseno.com/?
p=277
Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

 
Back to Top