TANGIS karya : W. S. Rendra

Diposting oleh PERJALANAN SANG MERPATI PUTIH pada 07:55, 03-Agu-15  •  Komentar (0)

Ke mana larinya anak tercinta

yang diburu segenap penduduk kota? 

Paman Doblang! Paman Doblang!

 

la lari membawa dosa

tangannya dilumuri cemar noda 

tangisnya menyusupi belukar di rimba.

 

Sejak semalam orang kota menembaki 

dengan dendam tuntutan mati 

dan ia lari membawa diri. 

Seluruh subuh, seluruh pagi.

 

Paman Doblang! Paman Doblang! 

Ke mana larinya anak tercinta 

di padang lalang mana

di bukit kapur mana

mengapa tak lari di riba bunda?

 

Paman Doblang! Paman Doblang! 

Pesankan padanya dengan angin kemarau 

ibunya yang tua menunggu di dangau.

 

Kalau lebar nganga lukanya 

mulut bunda 'kan mengucupnya.

 

Kalau kotor warna jiwanya 

ibu cuci di lubuk hati.

 

Cuma ibu yang bisa mengerti 

ia membunuh tak dengan hati.

 

Kalau memang hauskan darah manusia 

suruhlah minum darah ibunya.

 

Paman Doblang! Paman Doblang! 

Katakan, ibunya selalu berdoa. 

Kalau ia 'kan mati jauh di rimba 

suruh ingat marhum bapanya 

yang di sorga, di imannya.

 

Dan di dangau ini ibunya menanti 

dengan rambut putih dan debar hati.

 

Paman Doblang! Paman Doblang! 

Kalau di rimba rembulan pudar duka 

katakan, itulah wajah ibunya.

 




=W. S. RENDRA=

BALLADA LELAKI-LELAKI TANAH KAPUR karya : W. S. Rendra

Diposting oleh PERJALANAN SANG MERPATI PUTIH pada 07:53, 03-Agu-15  •  Komentar (0)

  Para lelaki telah keluar di jalanan  dengan kilatan-kilatan ujung baja  dan kuda-kuda para penyamun  telah tampak di perbukitan kuning  bahasa kini adalah darah.   Di belakang pintu berpalang tangis kanak-kanak, doa perempuan.   Tanpa menang tiada kata pulang  pelari akan terbujur di halaman  ditolaki bini dan pintu berkunci.   Mendatang derap kuda dan angin bernyanyi : -'Kan kusadap darah lelaki  terbuka guci-guci dada baja bagai pedagang anggur dermawan  lelaki-lelaki rebah di jalanan lambung terbuka dengan geram serigala!   O, bulu dada... [Baca selengkapnya]

KESAKSIAN TAHUN 1967 karya : W. S. Rendra

Diposting oleh PERJALANAN SANG MERPATI PUTIH pada 07:49, 03-Agu-15  •  Komentar (0)

Dunia yang akan kita bina adalah dunia baja kaca dan tambang-tambang yang menderu. Bumi bakal tidak lagi perawan, tergarap dan terbuka sebagai lonte yang merdeka. Mimpi yang kita kejar, mimpi platina berkilatan. Dunia yang kita injak, dunia kemelaratan. Keadaan yang menyekap kita, rahang serigala yang menganga.   Nasib kita melayang seperti awan. Menantang dan menertawakan kita, menjadi kabut dalam tidur malam, menjadi surya dalam kerja siangnya. Kita akan mati dalam teka-teki nasib ini dengan tangan-tangan... [Baca selengkapnya]

KAWAN karya : Toto Sudarto Bahtiar

Diposting oleh PERJALANAN SANG MERPATI PUTIH pada 07:47, 03-Agu-15  •  Komentar (0)

Biasanya dia berjalan malam-malam Menggigil karena angin terlalu tajam Orang-orang memandangnya dengan membelalak Tapi aku tidak   Apa yang tak memikatnya sampai ke hati Lampu dan bintang-bintang menyala tinggi Matanya sayu membelai semua yang berjalan Perempuan-perempuan, anak-anak berkejaran   Kalau malam putus asa tambah menurun langkahnya pun bertambah berat berembun Kadang-kadang dia berhenti, melihat padaku Kami sama-sama tersenyum pahit pilu   Aku tak perlu tahu dia siapa Tapi kami pernah sama mencintai malam Aku dan dia tak... [Baca selengkapnya]

ETSA karya : Toto Sudarto Bahtiar

Diposting oleh PERJALANAN SANG MERPATI PUTIH pada 07:46, 03-Agu-15  •  Komentar (0)

Suara kasih dalam hati malam

Kian lincah, tapi kemudian membeku

Tanpa bulan, karena bulan beradu

 
Dan hatiku sendiri kian terbenam




=TOTO SUDARTO BAHTIAR=